Legenda Denmark Ini Pilih Melatih Pemain Muda di India

Morten frost

Morten Frost, legenda bulu tangkis Denmark, menjadi pelatih Prakash Padukone Badminton Academy atau PPBA di Bengaluru, India. Eks tunggal putra nomor satu dunia itu akan melatih bocah-bocah di Negeri Bollywood tersebut.

PPBA adalah lembaga yang didirikan oleh Prakash Padukone, Legenda Bulu tangkis India, pada 25 tahun yang lalu.

Padukone mengatakan, pihaknya telah mendapatkan pelatih asing terbaik untuk membimbing pemain muda di PPBA.

“Morten akan menjadi motivasi bagi para pemain muda berbakat di akademi ini,” ujarnya seperti dikutip dari Scroll.in pada Selasa (12/2).

Selain melatih pemain muda, Morten Frost juga akan membantu pengembangan pelatih-pelatih bulu tangkis yang kuat di sana.

Morten pun mengaku sangat senang hadir di PPBA. Perkembangan bulu tangkis di India pun cukup pesat dalam satu dekade terakhir.

BACA JUGA : Lee Chong Wei Come Back April 2019

“Ada beberapa pemain unggul di India seperti, Saina Nehwal, P.V Sindhu, dan Srikanth Kidambi,” ujarnya.

Dia juga senang dapat berkontribusi membangun generasi muda bulu tangkis India.

Morten dikabarkan bakal sampai di Bangalore pada akhir pekan ini. Nantinya, dia akan melatih di PPBA selama satu tahun ke depan.

Ketika masih aktif bermain, Frost dan Padukone adalah kompetitor. Mereka berdua kerap bertemu dalam beberapa kejuaraan.

Pada masa jayanya, Morten Frost sempat berada di peringkat tiga besar dunia selama 12 tahun lamanya. Dia pun berhasil meraih gelar All England sebanyak 4 kali.

Setelah pensiun, dia sempat menjadi kepala pelatih tim Denmark. Salah satu prestasinya adalah mengantarkan tim nasional Denmark meraih emas Olimpiade pada 1996.

Selain itu, Morten sempat menjadi Direktur Teknis Badminton Association of Malaysia (BAM) pada 2015 sampai 2017.

Di sisi lain, Padukone adalah salah satu tunggal putra India yang pernah menjuarai kejuaraan dunia dan All England.

Padukone menjadi juara dunia pada gelaran Kejuaraan Dunia 1981 di Kuala Lumpur. Lalu, dia menjadi kampiun All England pada 1980.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.